Lintas Asosiasi Industri Tolak Wajib CSR

Jakarta-Sebanyak 20 asosiasi industri yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menolak penerapan wajib CSR (corporate social responsibility) yang tercantum dalam Pasal 74 Rancangan Undang-Undang Perseroan Terbatas (RUU PT). Penolakan kalangan lintas asosiasi industri itu karena jika pasal tersebut jadi disahkan dalam RUU PT, dikhawatirkan itu dapat memicu hengkangnya investasi asing dari Indonesia.

Hal itu terungkap dalam forum diskusi mengenai kewajiban CSR dalam RUU PT yang diselenggarakan kalangan lintas asosiasi industri, Senin (16/7) pagi.

Selain dianggap akan membebani kinerja perusahaan karena setiap perseroan diwajibkan mengalokasikan laba bersih tahunan untuk kegiatan sosial dan lingkungan, penerapan wajib CSR itu juga akan berdampak pada turunnya tingkat daya saing sektor manufaktur nasional di pasar internasional. Penerapan wajib CSR menurut kalangan lintas asosiasi industri juga akan menciptakan iklim investasi yang tidak kondusif bagi keberlangsungan usaha di dalam negeri.

Juru bicara lintas asosiasi industri, Franky Sibarani yang juga Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) menjelaskan bahwa selain Gapmmi, penolakan wajib CSR itu juga dinyatakan asosiasi-asosiasi lainnya, di antaranya, Persatuan Industri Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia), Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (Agri), Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), Aspadin (Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan), serta Nampa (Asosiasi Industri Pengolahan Daging).

Franky menegaskan bahwa penolakan wajib CSR yang diserukan kalangan lintas asosiasi karena mereka menganggap bahwa kebijakan yang dirumuskan pemerintah itu adalah kebijakan yang salah dan sama sekali tidak pro kepada kalangan industri.

”Jika pengaturan kewajiban CSR dalam RUU PT ini disahkan, Indonesia akan menjadi satu-satunya negara di dunia yang mewajibkan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ini sudah konsep yang salah,” tegasnya.
Dia juga menilai kewajiban CSR nantinya dapat menurunkan daya saing serta menghambat iklim investasi di dalam negeri yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekspor.
”Jika ekspor merosot karena daya saing menurun, angka pengangguran akan semakin membengkak. Bahkan, investasi asing dan domestik yang ada bisa hengkang. Ini yang harus dihindari,” tukasnya.

Kebijakan Reaksioner
Franky juga menuding usulan kewajiban CSR ini hanyalah kebijakan reaksioner yang menunjukkan kebiasaan DPR untuk memberikan “cek kosong” kepada pemerintah. Menurutnya, berdasarkan informasi yang didiperoleh, RUU PT yang mencantumkan kewajiban CSR itu sendiri sejak beberapa waktu lalu telah dibahas dalam panitia kerja (panja) DPR.

”Kalau masuk pleno DPR akan diundangkan dan pemerintah akan memberlakukan UU itu. Bocorannya, pada 17 Juli mendatang sudah ketok palu, jadi bisa dikatakan Kadin kecolongan kalau sampai RUU ini disahkan,” ungkapnya.

Kalangan pengusaha sendiri, lanjut Franky juga mendesak pemerintah untuk membatalkan pengaturan kewajiban CSR dalam RUU PT tersebut.

Hal senada juga dikemukakan Sekretaris Eksekutif API Ernovian G Ismy, yang mengatakan, Pasal 74 tentang kewajiban CSR dalam RUU PT tersebut harus dihapus. Jika RUU tersebut jadi mencantumkan Pasal 74 tentang kewajiban CSR, dia menilai ada sesuatu yang tidak beres antara pemerintah dan legislatif untuk menambah beban sektor industri di dalam negeri.

Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris yang dikonfirmasi secara terpisah mengaku sangat mendukung pandangan dunia usaha yang meminta CSR bersifat sukarela.
(moh ridwan)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/16/eko02.html

0 Responses to “Lintas Asosiasi Industri Tolak Wajib CSR”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: